YOU

Kau.

Kau.

Kau.

Akhir-akhir ini kau terus saja memenuhi kepalaku. Ada apa sebenarnya? Apa aku sudah mulai melupakannya? Apa aku mulai melupakannya karenamu? Benarkah?

Kau.

Kau selalu menyampirkan tas ranselmu di bahu sebelah kananmu. Kau selalu menggulung lengan kemejamu hingga sikutmu. Kau yang selalu memakai jaket ketika aku melihatmu tiba disekolah. Kau yang selalu memakai earphone disaat senggang.Kau yang selalu menggunakan jam tangan hitam ditangan kirimu.

Kau yang suka memangku kedua kakimu dikala kau duduk. Kau yang selalu berjalan dengan santai tanpa memperdulikan disekitarmu. Kau yang selalu menjadi penonton dikala teman-temanmu sedang berbuat hal aneh. Kau yang selalu hanya menertawakan kebodohan teman-temanmu. Kau yang selalu memasukan kedua tanganmu kedalam saku celanamu ketika kau berjalan.

Kau yang selalu masuk ke dalam kelasku dan berbicara bersama teman priaku. Kau yang selalu mengangkat alis jika ditanyai hal yang tak kau sukai. Kau yang selalu menyembunyikan kunci mobilmu jika kau mengendarai mobil kesekolah. Kau yang selalu mengelak jika ditanyai soal mobilmu. Kau yang tak suka dianggap ‘berada’ karena mobil.

Kau yang begitu sederhana. Kau yang begitu memikat. Kau terlalu menarik. Hingga membuatku tak sempat untuk sekedar menarik napas ketika tertarik ke dalam lingkaran yang kau buat. Kau bagai candu buatku.

Nafasku bagai tercekat jika kau melewatiku. 5 detik paling ku senangi jika berada disekolah. 5 detik setiap kau melewatiku. Itulah salah satu alasan yang membuatku begitu nyaman berada dikelas.

Karena…. kau

*

Hei…. aku berpapasan denganmu untuk yang ke-3 kalinya hari ini. Apa kau menyadarinya? Baiklah, sepertinya tidak.

Hari ini, kau tetap sama seperti hari-hari sebelumnya. Istimewa dan menarik. Tetap bisa membuatku tersenyum tak terkendali dan tetap bisa membuatku susah bernafas selama 5 detik (atau mungkin lebih).

Hari ini kau kembali datang ke kelasku. Kau berbicara dengan teman priaku yang berada dibelakangku. Hingga membuatku sedikit frustasi karena tak bisa melihatmu. Dengan susah payah, ku pertajam indra pendengaranku agar bisa mendengar suaramu.

Oohh…. ternyata kalian sedang membicarakan kegiatan Ekstrakulikuler kalian.

Dengan usaha yang keras, aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkanmu dan mencoba memulai pembicaraan dengan teman gadisku dikelas. Saat itu, hanya kau, aku, dan teman gadisku yang berada dikelas.

Hei? Kenapa kau tidak ikut keluar dengan teman priaku? Oohh…. ternyata kau sedang menulis sesuatu dikertas. Apa kau tahu? Pada saat itu, aku sangat iri pada kertas dan pulpen yang kau pegang.

Earphone lagi-lagi menemani duniamu. Cerita teman gadisku mengalir bersamaan dengan gumaman suaramu yang terkadang ikut menyanyikan lagu yang sedang kau dengar. Perhatianku begitu sulit ku fokuskan kepada teman gadisku. Kenapa? Karena kau begitu menarik.

Tak lama setelah itu, teman gadisku pergi meninggalkanku dan membuatku harus berada didalam kelas hanya berdua denganmu. Apa kau tau bagaimana perasaanku? Aku gugup!

Dengan langkah kikuk aku berjalan menuju tempat dudukku. Kau duduk tepat dibelakangku. Sambil sesekali mengecek suara yang dihasilkan detak jantungku, aku mempersiapkan diri untuk tak pingsan dihadapanmu.

Waktu bagai berjalan begitu cepat. Kau selesai menulis dan berjalan keluar dari kelasku dengan gaya andalanmu. Aku hanya bisa menatap punggungmu yang semakin menjauh dari pandangan mataku hingga kau menghilang dibalik pintu.

Hei…. apa kau menyadari keberadaanku?

Aku begitu ingin mengajakmu berbicara layaknya teman gadisku yang lain. Namun, hanya kebisuan yang tercipta jika kau berada didekatku. Aku terlalu takut dan terlalu gugup.

Terkadang aku harus menahan perasaan marah jika melihatmu berbicara dan tertawa bersama teman gadisku. Apa aku mengatakan bahwa aku cemburu? Ya. Aku cemburu. Karena aku tak bisa seperti mereka.

Apa ini akan terus seperti ini hingga kita tak bisa bertemu lagi? Entahlah.

Terkadang, aku berharap bisa mempunyai sebuah hubungan denganmu. Tapi, aku tahu. Kau tak mungkin menyukai gadis biasa sepertiku.

Aku tahu.

Tapi kenapa aku masih tetap berharap? Entahlah.

Mungkin karena…..

Kau.

FF – Love and Forgive

Title : Love and Forgive

Created by : KtekYixing/@Alyahap

Cast :

  • Zhang Yixing
  • You

Genre : sad/hurt/romance

Ya, ya, ya. Selalu aja buat ff yang ceweknya tersiksa haha -_- entah mengapa. Mungkin karena pengalaman pribadi yang selalu nyesek hahahahha. Jelasin dikit, tanda (*) itu  maksudnya flashback yaaahh… enjoy!

 

Summary : Pria berlesung pipi yang telah berhasil membuat seorang gadis bertekuk lutut padanya. Berhasil membuat seorang gadis setia menunggunya kembali.

 

 

-ooOoo-

Hawa dingin pertengahan desember menerpa wajahku. Ku rapatkan penutup tubuhku mencoba mencari kehangatan yang entah dimana. Langkah kakiku membawaku menuju perusahaan tempatku bekerja. Oh yeah, disaat selimut begitu nyaman, aku masih harus duduk berjam-jam di tempat kerja.

Ruanganku masih terlihat lengang. Terlihat beberapa pegawai lain yang baru saja datang dan beberapa lagi yang baru saja akan pulang. Aku datang sedikit lebih cepat hari ini. Aku terbangun lebih cepat dari alarmku karena mimpi. Mimpi yang bagai menghempasku pada ingatan menyakitkan.

Tidak. Tidak.

Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Aku sudah mencoba lebih tegar beberapa bulan terakhir dan aku mulai berhenti menangisi hal itu setiap malam. Aku lelah –tentu saja. Tapi, kenangan mana yang bisa hilang begitu saja? Aku tak akan mampu menghapus kenangan ini. Tak akan mampu sampai kapan pun.

2 tahun 9 bulan bukanlah waktu yang singkat. Selama itulah aku menghabiskan waktuku untuk terus-menerus memikirkannya. Hari-hari yang tentu saja tidak seperti kisah percintaan dalam opera sabun dan bukan juga seperti kisah percintaan dalam drama. Kisah percintaan kami berjalan dengan normal tanpa melupakan beberapa selipan cemburu dan curiga.

2 tahun 9 bulan yang kami lalui dengan berbagai macam hal yang begitu sulit untuk ku lupakan. Hal-hal indah yang telah menjadi kenangan. Hal-hal indah yang masih terasa begitu indah. Hal-hal indah yang masih terasa begitu familiar.

Hal-hal indah yang berubah menjadi kenangan, tepat 4 tahun yang lalu.

*

“Lupakan saja,”

Seorang pria muda sedang menatap sang gadis dengan senyum menenangkan. Sang gadis mengembangkan senyumannya ketika diberi sebuah pelukan hangat dari Yixing –pria muda itu. Tangan gadis itu refleks membalas pelukan hangat dari Yixing.

Kekesalan yang memenuhi pikirannya seketika saja menguap bagai asap karena pelukan Yixing. Pelukan favorite-nya, selain pelukan Ibunya –tentu saja. Komiknya yang telah teronggok tak berdaya pun langsung dilupakannya.

“Kau tahu, Xing Tou*? Pelukanmu adalah obat kesal paling manjur,”

Yixing terkekeh pelan mendengar ucapan gadisnya. Entah kali keberapa sang gadis telah mengatakan hal yang sama. Namun, hati Yixing tetap saja akan terasa hangat. “Kalau begitu, aku akan menghadiahkan pelukan padamu setiap hari,”

“Janji?”

“Janji!”

*

Sebuah pelukan hangat membuyarkan lamunan seorang gadis. Ditolehkan kepalanya dan dilihatnya Yixing sedang tertawa geli menatapnya. Lesung pipi indahnya tetap setia menghiasi pipinya. Senyumannya yang hangat tetap berhasil mengusir hawa dingin disekitar gadis itu.

“Aku punya kabar gembira!”

Sang gadis tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Namun, entah mengapa hatinya menolak untuk mengetahui kabar yang akan disampaikan oleh Yixing. Hatinya melarang. Hatinya berteriak menolak. “Kabar apa? Katakan padaku,”

Senyuman itu. Senyuman yang sama ketika gadis itu menerima ajakan Yixing untuk berpacaran. Senyuman yang sama ketika gadis itu memberi kejutan dihari ulang tahun Yixing. Senyuman sarat makna yang begitu indah. Tapi, hati gadis itu telah siap menangis. Entah mengapa.

“Apa kau ingat audisi yang pernah ku ikuti?” pertanyaan Yixing membuat hati sang gadis sedikit berlubang, tapi gadis itu tetap mengangguk. “Apa kau ingat betapa banyaknya sainganku?” lagi-lagi gadis itu mengangguk.

“Apa kau ingat yang kau katakan padaku?” Yixing menggenggam tangan gadisnya dengan erat. Bibir gadis itu seakan kelu. Dipaksakan kalimat yang telah dikatakannya dulu untuk terucap kembali. “Tenang saja…. Kau pasti akan terpilih,”

Dan gadis itu menyesali ucapannya itu.

Yixing memeluk gadisnya dengan cepat. Kebahagiaan Yixing memaksa masuk ke dalam hati sang gadis. Namun, hati sang gadis menolak. Dia tidak menyukai kebahagian ini.  “Aku terpilih…. Dan aku akan menjadi trainee di Korea,”

Gadis itu membenci kata-kata itu.

*

“Apa semua yang kau butuhkan sudah kau bawa?”

Yixing mengangguk sambil menatap gadisnya. Yixing sudah siap untuk berangkat ke Korea dan menjadi trainee disana. Yixing sudah siap menjadi trainee, tapi Yixing belum siap untuk meninggalkan gadisnya.

“Apa kau akan merindukanku?” pertanyaan Yixing membuat gadisnya tertawa. “Pertanyaan apa itu, Yixing?” gadisnya masih tertawa, mencoba menyembunyikan perasaan sedihnya. “Apa kau akan menungguku?” kembali Yixing bertanya. “Apa kau akan tetap mencintaiku? Jika iya, aku akan selalu menunggumu kembali,”

Air mata sang gadis mulai menggenangi pelupuk matanya. Yixing tidak dapat menahan perasaan sedihnya. Dipeluk gadisnya dengan erat. Yixing mencoba menjelaskan jawabannya melalui pelukannya. Terdengar isakan pelan dari gadisnya.

“Baiklah…. Aku akan menunggumu, Zhang Yixing,”

 

-ooOoo-

Sorotan lampu panggung yang menyilaukan mata, teriakan para fans yang menggema, ratusan cahaya kamera, dan ratusan banner. Dia berdiri dengan gagahnya bersama teman-teman grupnya. Dia tersenyum dengan hangat. Senyuman andalannya.

Hari ini dia tetap terlihat sama. Tetap seperti Xing Tou kesayanganku. Bukan. Bukan stylenya. Tapi, kebiasaannya. Aku? Aku pun tetap sama. Tetap mencintainya. Tetap menunggunya. Tetap menantinya. Menantinya untuk kembali –padaku.

4 tahun yang lalu dia pergi meninggalkanku. Sewaktu trainee, beberapa kali ia datang berkunjung. Tapi, aku menghindarinya. Kenapa? Karena, aku takut tak mengijinkannya untuk kembali jika kami bertemu.

Tidak boleh egois. Itu adalah impiannya.

Setelah impiannya terwujud, aku tidak begitu kesulitan untuk mengetahui kabarnya. Tak sedikit informasi yang bisa ku dapat dari internet. Sesekali, dia mengirimiku e-mail. Dia tak melupakanku. Dia berjanji akan menemuiku jika dia pulang. Dia tetap mengakhiri e-mailnya dengan kalimat ‘Aku mencintaimu’.

Aku membalas e-mailnya. Aku setiap hari mengiriminya e-mail. Aku selalu menceritakan apa yang terjadi. Tentu saja dia tak perlu, karena aku bisa mengetahuinya tanpa perlu menunggu e-mail darinya.

Aku tahu, dia tak bisa membaca dan membalas satu per satu e-mail yang ku kirim. Tapi, aku tetap saja mengirimnya untuk membuatku menjadi sedikit lebih lega. Sedikit.

Hanya aku yang gelisah dan tidak karuan dicerita kita ini. Ada hal yang terus mengganjal dihatiku. Ada hal yang tetap membuatku bagai terpasung. Hubungan kita belum berakhir. Kau belum memintaku untuk meninggalkan dan melupakanmu.

-ooOoo-

“Bagaimana denganmu, Lay? Ceritakan pada kami tentang cinta pertamamu,” Lay –Yixing, sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Dia tak menyangka akan ditanyai tentang hal itu. Pertanyaan inilah yang selalu dihindarinya.

“Cinta pertamaku ketika aku berumur 15 tahun. Aku mengajaknya berpacaran seperti mengajaknya untuk mengerjakan tugas bersama-sama,” Lay terkekeh pelan ketika mengingat masa itu. “Berapa lama kalian berpacaran?”

“2 tahun 9 bulan…. Kami berpisah ketika aku berangkat ke Korea untuk menjadi trainee,” Lay tetap tersenyum walaupun hatinya terluka karena ucapannya sendiri. “Sayang sekali…. Apa kau masih menyukainya?”

“Tentu saja…. Bagaimana bisa aku melupakan 2 tahun 9 bulan begitu saja?” Lay menjawab tanpa disadarinya. “Woaah…. Apa kau ingin kembali menjalin hubungan dengan gadis itu?” Lay terdiam beberapa saat. “Tidak…. Sekarang, kami adalah sahabat…. Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri,”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Lay bagai tak menghiraukan lagi keadaan disekitarnya. Perasaan menyesal membungkam bibirnya. Lay menyesal telah mengucapkan kata-kata itu. Kalau saja dia bukan seorang publik figure. Kalau saja dia tidak menjadi seorang trainee. Kalau saja dia tidak terpilih. Kalau saja dia tidak meninggalkan gadisnya.

Lay menyesal. Tapi, tak bisa berbuat apa-apa.

-ooOoo-

Seorang gadis sedang asik menumpahkan air matanya di salah satu sudut taman yang sepi. Hatinya sakit. Xing Tou kesayangannya, baru saja menjelaskan hubungan mereka. Ternyata, Xing Tou kesayangannya telah menganggap hubungan mereka telah berakhir 4 tahun yang lalu.

Hati gadis itu sudah penuh dengan kerinduan dan tetap menunggu Xing Tou kesayangannya untuk kembali memenuhi hatinya. Gadis itu sudah menelan rasa cemburu setiap hari dan tetap menunggu Xing Tou kesayangannya memberinya kesegaran dari sebuah pelukan.

Air mata gadis itu enggan berhenti mengalir. Gadis itu bingung, bagaimana caranya menutup lubang besar dihatinya. Gadis itu bingung. Dia tak sanggup menahan rasa sakit yang menyerangnya. Gadis itu tak punya banyak kekuatan lagi. Kekuatannya sudah terkuras selama 4 tahun ini.

Begitu banyak pertanyaan yang ingin gadis itu tanyakan pada Xing Tou kesayangannya. Tapi, gadis itu tak sanggup untuk mengetik sebuah e-mail kepada Xing Tou kesayangannya. Dia tak ingin melihat e-mail lama dari Xing Tou kesayangannya.

‘Aku akan mengakhirinya malam ini’

Gadis itu mengganti password e-mailnya dengan asal. Dia ingin mencoba menjauh dan melupakan Xing Tou kesayangannya. Gadis itu ingin mencoba berhenti. Berhenti mencintai dan menunggu seorang Zhang Yixing. Seorang pria yang berhasil membuatnya menunggu dan sakit selama 4 tahun.

Perhatian gadis itu teralihkan karena sebuah e-mail yang baru saja masuk. Gadis itu memaksakan diri untuk mengabaikan e-mail itu dan segera meninggalkan akun e-mailnya yang telah berganti password. Namun, hatinya berkata lain. Gadis itu pun membaca e-mail itu.

 

Gadisku tersayang,

Maafkan perkataanku diradio tadi. Aku tak bermaksud membuatmu sakit, namun itu adalah tuntutan agensi. Aku tak boleh membeberkan kisah kita. Aku juga tak ingin membuatmu diganggu oleh fans. Aku tak ingin kau seperti mantan kekasih Minseok hyung.

Aku menyesali ucapanku tadi. Apa kau tahu? Aku selalu berhasil menghindari pertanyaan seperti tadi. Namun, hari ini aku gagal. Aku gagal berucap dan aku berhasil membuatmu sakit. Aku tahu, sekarang kau pasti sedang menangis. Jika saja aku bisa menghapus air matamu dan memelukmu.

1 minggu lagi aku akan pulang. Dan aku harap, kau mau menemuiku. Aku sangat merindukanmu. Gadisku tersayang, kau mau memaafkanku dan menemuiku, kan?

Aku selalu mencintaimu.

-Xing Tou-

 

Gadis itu terisak membaca isi e-mail itu. Air mata kembali mengalir deras dipipinya. Air mata tetap mengalir dan hati gadis itu menjadi tenang. Diurungkan niatnya untuk mengakhiri rasa cintanya. Dibatalkan niatnya untuk mengganti password e-mailnya.

Gadis itu tidak bisa membohongi perasaannya bahwa ia begitu mencintai Xing Tou kesayangannya itu. Gadis itu tetap akan memaafkan Xing Tou kesayangannya. Gadis itu akan tetap setiap menunggu kembalinya Xing Tou kesayangannya.

 

Xing Tou kesayanganku,

Tenang saja, aku tidak menangis. Aku tahu, itu adalah tuntutan agensimu walaupun aku tetap merasa SEDIKIT sakit ketika mendengar ucapanmu.

Baiklah, ayo bertemu 1 minggu lagi.

Aku selalu mencintaimu

-Gadismu-

 

Dan akhirnya, gadis itu akan selalu bisa memaafkan Zhang Yixing. Pria berlesung pipi yang telah berhasil membuat seorang gadis bertekuk lutut padanya. Berhasil membuat seorang gadis setia menunggunya kembali.

The End

 

p.s :

– Xing Tou itu nickname punya Lay. Artinya imut dan kecil

 

Leave ur comment~~~^^)/

Cinta Diam-Diam (5)

Aside

Hai love!

Jum’at kemarin adalah jum’at berkah untukku. Karena, untuk pertama kalinya kau berbicara langsung padaku.

Hey! Kau berbicara denganku!

Walaupun hanya pembicaraan tidak terlalu penting dan temasuk singkat. Namun, aku tetap merasa begitu bahagia. Terlalu bahagia. Hingga membuatku sulit menghapus senyuman di bibirku.

Tapi, aku harus berhati-hati sekarang. Dengan cerobohnya, aku lupa menghapus smsku yang sedang membahas tentangmu. Hingga membuat teman sebangkuku harus mengetahui perasaanku kepadamu. Untung saja, dia adalah teman lamaku jadi aku tidak terlalu panik. Yah walaupun aku tetap saja malu karena ketahuan.

Kesibukkan disekolah membuatku terkadang sedikit melupakanmu. Masih di hari yang sama, aku diminta untuk membantu wali kelas disekolah. Tugas itu selesai pukul 15.00. Karena tak seorang kenalan pun yang tersisa disekolah, aku pun pulang menggunakan angkutan umum.

Di saat perasaan lelah begitu membuncah. Aku melihat mobil dengan plat nomor yang sama dengan milikmu, di parkir di depan salah satu rumah. Apakah itu rumahmu? Entahlah, aku belum mau terlalu percaya.

Namun, karena hal itu perasaan lelahku langsung menguap dan menghilang entah ke mana. Ajaib.

Terakhir untuk hari ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih karena mau berbicara padaku, Love! 😀

Cinta Diam-Diam (4)

Hai Love!

Ada hal menyenangkan yang membuat senyumanku mengembang bagai tak ingin menghilang dari wajahku. Sampai tulisan ini ku buat, hal itu masih terasa begitu segar di dalam ingatanku.

Apa kau tau hal apa yang ku maksud?

Hal pertama.

Kau tersenyum LANGSUNG kepadaku. 

Sekali lagi, KAU TERSENYUM LANGSUNG KEPADAKU. KEPADAKU. KEPADAKU. KEPADAKU. KEPADAKU. KEPADAKU. KEPADAKU. KEPADAKU. KEPADAKU. KEPADAKU. KEPADAKU. KEPADAKU. KEPADAKU. KEPADAKU.

05/10-2013

Tanggal itu tak akan ku lupa. Bagaimana tidak? Pada hari itu, untuk pertama kalinya kau tertawa kepadaku. Bukan kepada orang lain. Kepadaku.

Hal simple yang tak terduga ternyata bisa membawa berkah untukku. Kebetulan yang membawa kebahagiaan. Kebahagian yang begitu memuncak hingga membuatku harus mengontrrol diriku dengan susah payah.

Degup jantungku pun seakan tak mau memelankan detakkannya karenamu. Dan hal yang paling membuatku senang adalah kau yang pertama tertawa kepadaku. Itu adalah hal ajaib yang tak pernah terpikirkan oleh ku.

 

Hal kedua.

Kau mengetahui tanggal ulang tahunku.

Keberuntungan kembali datang padaku dihari yang masih sama. Hari tu, aku diharuskan datang kerumah salah satu teman kelasku. Dan kau di sana, kau yang sedang sibuk dengan urusan ekstrakulikulermu di ruang tamu rumah temanku.

Karena masih begitu senang dengan kejadian disekolah, senyumanku terus mengembang karena kau terekam di saraf penglihatanku. Kau tetap  telihat begitu menawan pada hari itu.

Ketika akan pulang, kau sudah selesai dengan urusan ekstrakulikulermu dan kau keluar dari ruang tamu. Aku yang sudah berjalan menuju kendaraan mendengar teriakan temanku yang meneriakan tanggal ulang tahunku.

Lalu, kau bertanya ada apa dengan tanggal itu. temanku menjawab bahwa itu adalah tanggal ulang tahunku. Kau pun mengangguk dan melihatku yang sedang bersiap untuk pulang.

Aku begitu bahagia karena kau mengetahui tanggal ulang tahunku, walaupun aku tahu kau tidak akan memberi selamat kepadaku. Namun, kebahagiaanku menutupi kekecewaanku itu.

Terakhir untuk hari ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Terimakasih untuk senyumanmu, Love! 😀

Cinta Diam-Diam (3)

Hai love!

Apa kabarmu? Tentu saja baik.

Hari ini, sepertinya tema yang tepat adalah ‘kebahagian yang memuncak’. Bagaimana tidak? Ketika pulang sekolah, kau berjalan tepat di sampingku. Sekali lagi, di-sam-pi-ng-ku.

Walau hanya berjarak 34 langkah hingga gerbang sekolah, tapi tetap saja udara di paru-paruku bagai menipis.

Kau tetap dengan gaya favoritemu. Lengan baju sekolahmu yang kau lipat rapih hingga sikut, ranselmu kau sampirkan asal di bahu kirimu, sepatu favoritemu, dan jam tangan hitam kesayanganmu. Namun, untuk hari ini kau berjalan sambil memegang botol air mineral. Kau memangnya dengan tangan kananmu sambil berjalan dengan cueknya.

Apa kau menyadarinya? Kau begitu keren! Kau begitu mempesonaku hingga membuatku terus berdoa selama 34 langkahku agar waktu bisa berhenti.

Pada langkah ke 28, kau menghabiskan air yang kau bawa dan membuangnya ke tempat sampah pada langkah ke 32. Apa ini terlalu detail? Biarkanlah. Biarkanlah hati ini dimanjakan dengan kebahagian yang memuncak namun tetap terlihat semu.

Akhir-akhir ini, semakin banyak cerpen yang ku buat yang hampir semua menyangkut hal tentang dirimu. Walaupun ide awalnya tidak ada hal tentangmu, tapi tetap saja ketika cerpen itu selesai, hal tentangmu ada di dalam cerpen itu.

Kau begitu senang menjamah dunia khayalanku hingga membuatku melayang hingga puncak dan akan terhempas begitu keras ketika kenyataan menyadarkanku.

Kau belum pasti akan menjadi milikku.

Tetapi.

Hey, apa pentingnya kenyataan itu? Kenyataan itu bisa saja berubah, kan? Walaupun, aku hanya bisa mengantungi 0,00001%, tak masalah buatku.

Terakhir untuk hari ini….
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
I’m still fall in love with u 🙂

Cinta Diam-Diam (2)

Hai, aku kembali menjadikanmu pemeran utama dalam tulisanku hari ini.

Lagi-lagi, ada kegiatan disekolah yang membuatku bisa melihatmu. Apa aku senang? Tentu saja!

Aku memanfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya. Apa kau tau? Hari ini, kau tak hilang dalam waktu yang lama dalam pandanganku. Aku menyukai hal itu.

Begitu banyak hal indah yang ku dapatkan dari kau hari ini. Aku terlalu bahagia. Gemuruh jantungku bagai bisa menyaingi tebuhan drum band sekolah.

Ada satu yang begitu membekas di pikiranku.

Ketika, aku berbicara dengan temanku di hadapanmu. Apa kau menyadarinya? Kau tertawa kecil! Hey, kau tertawa karenaku! Ingin rasanya aku berlari meninggalkan tempat itu saat itu juga! Namun kakiku tak bersahabat dan membuatku harus tetap berdiri di hadapanmu.

Aku menyukai tawamu itu. Tawa ringan tanpa paksaan. Tawa yang begitu menawan. Tawa yang begitu menggoda. Tawa yang sangat ku sukai.

Hari ini, saraf pendengaranku pun dimanjakan dengan suaramu.

“Dapat di atasi”

Kalimat singkat yang kau lontarkan bersama tawa ringanku. Sukses lagi, lagi, dan lagi membuat udara terasa menipis di paru-paruku.

Mengapa semua hal yang ada padamu begitu menggodaku? Kau semakin menggoda akhir-akhir ini.

Hingga penghujung waktuku di sekolah, penglihatanku masih dengan nyamannya dihibur dengan kehadiranmu. Untuk penutupan hari ini aku bisa melihatmu tersenyum (walau bukan untukku).

Dan, yang terakhir untuk hari ini.
.
.
.
.
.

Aku masih begitu menyukai dan menikmati Cinta Diam-Diamku padamu.

-Alyahap-

Cinta Diam-Diam (1)

Aside

Cinta Diam-Diam.

Cinta yang hanya dirasakan satu pihak saja. Ya. Hanya satu pihak. Cinta yang tersembunyi begitu rapat. Cinta yang menyakitkan namun begitu memabukan.

Apa kau pernah merasakan Cinta Diam-Diam? Pasti.

Kau akan merasa dia bagai magnet yang terus memaksa pandanganmu untuk terus menatapnya (walau hanya dari jauh). Kau akan merasa sulit bernafas jika dia tersenyum. Kau akan menyukai semua hal yang dia lakukan. Kau akan mengetahui semua tentangnya. Oh, begitu banyak hal hingga membuatku sulit untuk menjelaskannya.

Aku pun mengalami Cinta Diam-Diam pada dia.

Dia.
Dia.
Dia.
Dia.
Dia.

Hanya mengingat namanya saja sudah membuatku tersenyum. Dia yang begitu menarik. Dia yang begitu berbeda. Dia yang begitu mempesona.

Dia.
Dia.
Dia.
Dia.
Dia.

Aku mengenalnya karena teman. Ya. Kami berbeda kelas tapi aku menyukai hal itu. Kenapa? Karena aku sangat suka menebak apa yang dia lakukan dikelasnya. Itu sangat menarik dan menyenangkan. Dan aku juga sangat suka ketika menghitung menit dan detik menuju jam istirahat. Mungkin aku terlalu bersemangat untuk melihatnya.

Aku menikmati Cinta Diam-Diam ini, menikmati waktu indah yang akan sulit ku dapatkan jika suatu saat nanti Cinta ini tak bisa di namakan Cinta Diam-Diam lagi.

Dulu, aku akan merasa begitu sedih jika mengetahui dia mengagumi atau menyukai seorang gadis. Aku merasa sangat ingin menjadi gadis beruntung itu.

Namun, sahabatku membuatku sadar. Untuk apa aku sedih? Untuk apa menjadi gadis itu? Aku hanya perlu menjadi diri sendiri. Menjadi gadis yang bisa membuatnya tertarik padaku.

Dan, sekarang. Aku tak perduli jika dia sedang menyukai seorang gadis. Aku hanya ingin menikmati sensasi bodoh namun menyenangkan dari Cinta Diam-Diamku ini tanpa mau merasa cemburu pada gadis lain yang belum tentu akan menjadi ‘gadisnya’.

Aku hanya ingin memanjakan diriku dengan pesonanya. Itu saja. Tidak sulit untuknya dan tidak akan merugikan dia.

Jika bisa, aku ingin mengatakan padanya bahwa …..
.
.
.
.
.

Aku mengaguminya diam-diam. Aku menunggunya diam-diam. Dan, aku mencintainya diam-diam.

-Alyahap-